Di Pelupuk Senja (cerpen)

8.21.2014
Hari mendekati sore saat ku berdiri di sana, di selasar rumah mu. Mendengar pengakuan tentang hidupmu saat ini dan wanita itu ... yang kau sebut ~ istri !

(...)
Setahun lalu, ku ingat masa pertemuan kita. Kau, pria yang ku tatap dari jauh dalam balutan jas hitam dan kemeja putih berdasi, berbicara dihadapanku, atau mungkin lebih baik ku katakan dihadapan banyak orang. Tanpa tahu sihir apa yang kau gunakan padaku, aku terpesona olehmu. Memandangmu, bukan hanya semenit tapi hingga waktu yang meminta mu turun dari sana. Yahh, pesonamu, ... itu membius ku, tahu kah kau ???

Pertemuan pertama, tanpa kata ! . Kedua ? sama saja. Bahkan hingga kau datang kerumah, aku masih belum bisa menyapa mu. Lagi, aku merasakan sihir itu. Terasa hingga kedalam mimpi. Kau ?? masuk dalam hatiku dan menemani hari ku disana. Hei, tapi mengapa ini terasa nyata, aku bisa melihatmu dengan jelas. Kau datang kerumah ?? bersikap biasa seolah kita sudah lama kenal, bahkan kau memanggil ku "sayang" ??? . Sedalam itukah hatiku menginginkan mu ? .

Sapaanmu, mengejutkan ku. Bahkan lebih jauh dari itu, kau bercanda bersama keluargaku. Mereka terlihat riang tertawa bersamamu. Tapi mengapa hanya aku yang terlihat aneh dan merasa bukan bagian dari cerita ini ? Aku, gadis yang kau panggil "sayang" merasa seolah baru tersadar dari tidur cukup lama dan kembali dalam ingatan yang hilang. Aku terus menatapmu, tak henti !!. Kau ? menjadi pria ku saat ini ??. Terselip perasaan hangat dihatiku. Boleh aku memiliki ini selamanya ?

Tawa riangmu terhenti saat menatapku. Aku bingung. Sontak ku alihkan pandangan ku dari mu. Aku malu dan kau tahu itu. Bisa ku dengar tawa kecilmu yang seolah menggoda ku. Alih merasa bingung, ku paling kan kepala ku, sedikit ... mencuri pandang padamu. Kau manis saat tertawa. Bisa kurasakan lekuk bibirku tertarik saat hatiku berkata, aku tersenyum. 

Sadar aku melihat mu, kau terdiam. 

(......)

Tenang. Itu yang kurasakan. Kita saling menatap. Kau yang biasa hanya bisa ku sapa dalam diam, dalam jarak yang memisahkan, kini ada di hadapanku. Bukan dalam balutan jas formal, hanya kaos berkerah dan hei, aku bisa menatap dada itu, bidang, seperti yang ku perkirakan. Masih dalam diam, ku lihat kau merogoh saku celana. Ada apa disana ??

Kau terlihat tidak sabaran mencarinya ???. Gerakanmu melambat. Sepertinya, sudah kau temukan apa yang dicari dan kau tersenyum ?. Kotak ? itu yang terlihat oleh ku saat kau menjulurkannya keluar. Kecil dengan hiasan pita diatasnya. Kau membawa kotak itu ke hadapanku, semakin dekat dan membukanya. 

(.....)

Tuhan !! Boleh aku menjerit sekarang ? Apa yang ada di hadapanku benar-benar membuatku terharu. Mataku memburam seiring titik air mata yang jatuh membasahi pipi. Kau mengambilnya, cincin itu. Lalu meraih jemariku dan menyematkannya disana. Air mataku semakin jatuh saat kau kecup jemariku. Lengan mu menyentuh dan membawa tubuhku mendekat ke arahmu. Dekapanmu, sungguh hangat. Aku menangis disana, didada itu. Hhee, dada impian ku :p

- continue -

*created by : vera sitompul*

Salam
xoxo

No comments:

Post a Comment